Jejak Pengabdian Sosok Humanis Kompol Jusman Mori

MANADO — Jalan panjang pengabdian seorang polisi tidak selalu berjalan lurus. Ada kalanya ia berhadapan dengan arus kendaraan di jalan raya, mengatur operasi kepolisian, mengelola personel, hingga akhirnya berdiri sebagai pemimpin di tengah masyarakat.

Perjalanan itulah yang tergambar dalam sosok Jusman Mori, S.I.K., M.M. Perwira Polri yang kini dipercaya mengemban tugas sebagai Kapolsek Malalayang, Polresta Manado.

Sebelum berada di posisi tersebut, Jusman telah melewati sejumlah penugasan yang membentuk pengalaman profesionalnya. Lalu lintas, operasional kepolisian, manajemen sumber daya manusia, hingga tugas kewilayahan menjadi bagian dari perjalanan kariernya.

Jauh sebelum kembali bertugas di Manado, nama Jusman Mori telah dikenal di lingkungan kepolisian Papua.

Pada 2020, ia tercatat sebagai Kasat Lantas Polres Sarmi. Dalam pelaksanaan Operasi Ketupat Matoa kala itu, Jusman tidak hanya menjalankan fungsi penegakan hukum lalu lintas, tetapi juga mengedepankan pendekatan pelayanan masyarakat. Salah satunya melalui pembagian ratusan masker kepada pengguna jalan sebagai bagian dari upaya pencegahan penyebaran Covid-19.

Kariernya kemudian berlanjut sebagai Kasat Lantas Polres Jayapura. Pada 2021, namanya tercatat dalam berbagai kegiatan pengamanan lalu lintas, termasuk rangkaian pengamanan PON XX Papua. Dokumen pengamanan Kirab Api PON XX bahkan mencatat Jusman Mori sebagai Ps Kasat Lantas dan bagian dari satuan tugas pengamanan lalu lintas.

Pengalaman di jalan raya membuatnya bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat. Dari kemacetan, kecelakaan, pelanggaran lalu lintas hingga persoalan keselamatan pengguna jalan.

Namun perjalanan kariernya tidak berhenti di bidang lalu lintas.

Pada Maret 2022, Jusman Mori, dipercaya menduduki jabatan Kabag Ops Polres Nabire. Ia menggantikan Kompol Jeffri P. Tambunan dan sebelumnya menjabat Kasat Lantas Polres Jayapura. Mutasi tersebut tercantum dalam Keputusan Kapolda Papua Nomor Kep/111/II/2022.

Sebagai Kabag Ops, cakupan tanggung jawabnya berubah. Jika sebelumnya lebih banyak berkutat dengan persoalan lalu lintas, kini ia dituntut mampu mengelola operasi kepolisian dengan skala yang lebih luas.

Salah satu gambaran tanggung jawab tersebut terlihat ketika Polres Nabire mengamankan turnamen sepak bola Bupati Cup 2022. Saat itu, Jusman Mori menyebut sekitar 300 personel Polres Nabire dikerahkan, dengan dukungan Brimob dan TNI.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa karier Jusman tidak hanya dibangun melalui kemampuan teknis di bidang lalu lintas, tetapi juga melalui pengalaman mengelola operasi dan personel dalam situasi yang membutuhkan koordinasi lintas institusi.

Dari Operasional hingga Manajemen Personel

Setelah menjalani penugasan di Papua, perjalanan Jusman Mori kembali bersinggungan dengan Sulawesi Utara.

Di lingkungan Polda Sulut, perwira murah senyum ini pernah dipercaya sebagai Kasubag Diapers Bag Dalpers Biro SDM Polda Sulut.

Penugasan tersebut memberi warna berbeda dalam perjalanan kariernya. Jika tugas di satuan lalu lintas dan bagian operasional lebih banyak berhadapan dengan dinamika lapangan, tugas di Biro SDM bersentuhan dengan aspek pengelolaan dan pembinaan personel kepolisian.

Dengan pengalaman tersebut, perjalanan Jusman dapat dilihat dari tiga sisi yakni polisi lalu lintas, perwira operasional, sekaligus bagian dari manajemen sumber daya manusia kepolisian.

Pengalaman lintas fungsi tersebut kemudian menjadi modal ketika ia kembali mendapat tugas di lapangan.

Kembali ke Jalan Raya Manado

Pada 2025, Jusman Mori dipercaya menjadi Kasat Lantas Polresta Manado.

Jabatan tersebut membawanya kembali ke bidang yang sejak awal banyak mewarnai perjalanan kariernya: lalu lintas.

Namun penugasan itu ternyata tidak berlangsung lama.

Dalam sertijab yang dipimpin Kapolresta Manado Kombes Pol Irham Halid pada 16 Desember 2025, jabatan Kasat Lantas diserahterimakan dari AKP Jusman Mori kepada AKP Angelico Timotius Sulu. Pada kesempatan yang sama, Jusman mendapat amanah baru sebagai Kapolsek Malalayang, menggantikan AKP Elwin Kristanto.

Perpindahan dari Kasat Lantas menjadi Kapolsek membawa Jusman lebih dekat dengan masyarakat.

Jika sebelumnya sebagian besar persoalan yang dihadapi berkaitan dengan lalu lintas, sebagai Kapolsek ia harus berhadapan dengan spektrum persoalan yang jauh lebih luas yaitu kriminalitas, gangguan ketertiban, konflik sosial, pelayanan masyarakat hingga pengamanan berbagai kegiatan.

Di sinilah pengalaman panjangnya diuji.

Mengukur Kecepatan dari Laporan Masyarakat

Di Malalayang, salah satu pendekatan yang terlihat dari kepemimpinan Jusman Mori adalah penekanan terhadap kecepatan respons.

Pada 4 Mei 2026, misalnya, personel Polsek Malalayang merespons laporan masyarakat melalui Call Center 110/112 terkait seorang pria yang mengamuk di Malalayang Dua.

Laporan diterima sekitar pukul 22.57 WITA dan polisi tiba di lokasi sekitar 23.10 WITA. Situasi kemudian berhasil dikendalikan dan kembali kondusif.

Sebulan kemudian, respons cepat kembali terlihat ketika laporan dugaan pencurian diterima melalui layanan 110/112. Polisi bergerak dan tiba di lokasi sekitar 10 menit setelah laporan diterima, hingga terduga pelaku berhasil diamankan.

Bagi Jusman, kecepatan bukan sekadar angka.

Ia menyebut setiap laporan masyarakat harus ditindaklanjuti secara cepat. Dalam konteks kepolisian kewilayahan, kecepatan merespons laporan menjadi salah satu cara membangun rasa aman sekaligus kepercayaan publik.

Ketika Kejahatan Jalanan Menjadi Tantangan

Tantangan lain datang dari kasus kriminalitas.

Pada Juni 2026, Tim Gabungan Polsek Malalayang berhasil mengungkap kasus pencurian dengan modus pecah kaca mobil di area parkir RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou.

Kasus tersebut bermula ketika sebuah kendaraan milik warga ditemukan dalam kondisi kaca pecah dan sebuah iPad Pro hilang. Kerugian korban diperkirakan sekitar Rp18 juta.

Kapolsek Malalayang AKP Jusman Mori kemudian memerintahkan personelnya melakukan penyelidikan. Kurang dari sepekan setelah laporan diterima, dua orang yang diduga terlibat berhasil diamankan di wilayah Teling Atas.

Kasus tersebut menunjukkan pola kerja yang berbeda dari sekadar patroli rutin. Ada proses menerima laporan, mengumpulkan informasi, mengidentifikasi pelaku, melakukan pelacakan hingga penangkapan.

Semua berlangsung dalam satu rangkaian kerja kepolisian yang membutuhkan koordinasi dan ketelitian.

Polisi yang Ditempa Banyak Medan

Dari Sarmi dan Jayapura, bergerak ke Nabire, kemudian kembali ke Sulawesi Utara, perjalanan Jusman Mori memperlihatkan bagaimana seorang perwira kepolisian ditempa oleh beragam medan tugas.

Ia pernah berada di balik kemudi tugas lalu lintas, berada di ruang kendali operasi sebagai Kabag Ops, menjalani tugas di bidang sumber daya manusia, kembali menangani lalu lintas dan kini memimpin sebuah kepolisian sektor.

Rangkaian pengalaman itu menjadi bekal penting ketika menghadapi persoalan masyarakat yang semakin kompleks.

Di Malalayang, ukuran keberhasilannya bukan hanya seberapa banyak kasus yang berhasil diungkap, tetapi juga seberapa cepat masyarakat mendapatkan bantuan ketika membutuhkan kehadiran polisi.

Sebab bagi masyarakat di tingkat kewilayahan, wajah Polri sering kali bukanlah institusi yang jauh di balik gedung besar.

Wajah Polri adalah polisi yang datang ketika warga menelepon.

Polisi yang hadir ketika terjadi gangguan keamanan.

Polisi yang mengamankan lingkungan ketika masyarakat merasa resah.

Dan pada titik itulah perjalanan Jusman Mori menemukan makna baru.

Dari seorang polisi yang bertahun-tahun bersentuhan dengan arus lalu lintas, ia kini berada di tengah arus kehidupan masyarakat Malalayang, menghadapi persoalan yang tidak selalu memiliki rambu, tetapi tetap membutuhkan arah, ketegasan dan kecepatan dalam mengambil keputusan.

Pada 30 Juni 2026 sosok humanis Jusman Mori, resmi menyandang pangkat Komisaris Polisi. Kenaikan pangkat tersebut dimaknainya sebagai amanah untuk terus meningkatkan pelayanan profesional dan humanis kepada masyarakat. Perwira yang sebelumnya berpangkat AKP itu justru melihat penghargaan dari institusi tersebut sebagai amanah yang menuntut tanggung jawab lebih besar dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Menurutnya, setiap jabatan maupun pangkat pada hakikatnya merupakan titipan Tuhan yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab serta menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pengabdian.

“Semua yang kita miliki, jabatan maupun pangkat, hanyalah titipan Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu, amanah ini harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, rendah hati, dan dedikasi yang tinggi dalam mengabdi kepada masyarakat,” ujar Jusman.

Jejak pengabdiannya masih terus berjalan. Dan Malalayang menjadi salah satu ruang tempat pengalaman panjang itu kini diuji. (Tomy)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *