Oleh: Iverdixon Tinungki
Di Essang, jauh sebelum namanya tercatat dalam lembaran sejarah politik Talaud, seorang anak perempuan kecil berdiri menatap garis ufuk. Di matanya, laut bukan sekadar bentangan air asin yang memisahkan daratan, melainkan ruang bernapas tempat ayah dan ibunya menggantungkan takdir. Sri Wahyumi Maria Manalip tumbuh bersama gelegak gelombang dan desir angin perbatasan—dua elemen yang tidak pernah beristirahat menimpa batu karang Kepulauan Talaud. Bagi anak-anak perbatasan, laut adalah ibu yang menyusui kehidupan.
Namun, waktu bergerak membawa kenyataan yang ganjil. Berpuluh-puluh tahun kemudian, sebelum Sri Wahyumi memegang tongkat kepemimpinan, tanah berjuluk Porodisa—sang surga kecil di ujung utara Sulawesi Utara—justru mengidap amnesia maritim.
Suatu hari pada tahun 1998, di sebuah rumah sederhana di kawasan Apeng Simbeka, Tahuna, Mardonis Damura mengungkapkan sebuah rahasia pahit. Pengusaha ikan asin itu tersenyum tipis saat menceritakan roda bisnisnya. Setiap bulan, Mardonis mengapalkan 3 hingga 5 ton ikan asin dari Sangihe menuju pasar Lirung dan Beo di Talaud. Sungguh sebuah ironi yang menikam: masyarakat di kepulauan yang dikelilingi laut seluas lebih dari 1.288 kilometer persegi itu justru membeli ikan asin dari tetangganya. Orang-orang Talaud kala itu lebih memilih mencangkul tanah ketimbang memegang kemudi perahu.
Ironi di Talaud sejatinya hanyalah cermin kecil dari luka sejarah yang lebih luas. Berabad-abad lamanya, sejak jaman kolonial hingga masa Orde Baru, bangsa pelaut ini dipaksa membelakangi samudera. Garis pantai sepanjang lebih dari 95 ribu kilometer dibiarkan menjadi batas mati, sementara doktrin agraris ditanamkan begitu dalam. Laut yang seharusnya menjadi jalan penghubung, berubah menjadi jurang pemisah. Baru puluhan tahun kemudian, di panggung nasional, suara tajam Susi Pudjiastuti bernada sama: menyindir alpa panji-panji maritim bangsa yang terlalu lama lupa akan kodrat geografisnya.
Di Essang, memori masa kecil itu terus memanggil Sri Wahyumi. Ia tahu, untuk mengembalikan harkat negerinya, ia harus mengajak rakyatnya kembali menatap gelombang. Ada keajaiban yang tersembunyi ketika kapal menyisir perairan utara Talaud. Di celah-celah gelombang yang biru pekat, kepakan tubuh ikan tuna memantulkan cahaya matahari—sebuah pertunjukan alam yang fantastis dan berlangsung hampir sepanjang tahun. Lebih jauh melayang ke utara, di Pulau Intata, kawasan Nanusa, tradisi tua bernama Mane’e terus dipelihara oleh masyarakat Kakorotan. Tanpa jaring modern, tanpa bahan peledak, mereka hanya membentangkan janur-janur kelapa di permukaan air untuk menggiring dan memanen ikan. Itu adalah bahasa antara manusia Talaud dan lautnya.
Dinas Perikanan mencatat potensi lestari kawasan perbatasan ini menyentuh angka 100 ribu ton per tahun. Namun, kekayaan berlimpah ini lama menjadi incaran di luar garis batas negara.Memori akhir tahun 2011 menghadirkan kisah mendiang Hopni Ratungalo. Pegawai negeri sipil sekaligus pengusaha perikanan asal Desa Bowombaru itu paham betul peta pergerakan armada kapal ikan di laut utara. Dalam sebuah perbincangan, Hopni mengungkapkan rahasia umum yang menyakitkan: sekitar 80 persen ikan tuna yang merapat di pelabuhan General Santos (Gensan), Filipina, berasal dari perairan Talaud. Denyut nadi industri perikanan di negara tetangga itu bertumpu pada hasil jarahan illegal fishing di laut Indonesia yang sepi pengawasan.
Talaud kaya, namun kekayaannya mengalir ke piring orang lain. Ketika gelombang reformasi membawa hembusan paradigma baru tentang pentingnya wilayah laut, mengubah cara pandang masyarakat yang sudah terlanjur mengakar pada kultur daratan bukanlah perkara gampang.
Ketika daratan kian sempit untuk memberi penghidupan, laut Talaud yang dingin dan kaya tetap menunggu untuk disapa kembali. Dan tantangan itulah yang berdiri di hadapan Sri Wahyumi ketika ia melangkah ke balai kabupaten Talaud. “Temanku angin, sahabatku ombak,” ucap Sri Wahyumi suatu kali di hadapan para awak media perbatasan. Kalimat itu tidak lahir dari susunan kata-kata manis penyair, melainkan dipetik langsung dari kenyataan keras hidup nelayan Talaud.
Sejak dilantik menjadi wanita pertama yang memimpin Kabupaten Kepulauan Talaud pada 2014, Sri Wahyumi langsung mengibarkan bendera perlawanan terhadap keterbelakangan. Langkah awalnya tergolong nekat: ia menetapkan target produksi ikan tuna sebesar 500 ton per hari. Keraguan dan nada pesimis berhembus cepat dari berbagai arah. Bagi banyak orang, angka itu terlampau utopis untuk sebuah kabupaten perbatasan yang muram dan serba terbatas.
Namun, jurnalis perbatasan seperti Denny Dalihade paham betul dengan siapa mereka berhadapan. “Sekali melangkah, ia tak surut selangkah,” tutur Denny menggambarkan karakter Sri Wahyumi.
Bupati perempuan itu mengemas ketangguhannya dalam diplomasinya ke Jakarta. Ia mendatangi kementerian demi kementerian, melobi Pemerintah Pusat agar berpaling ke batas utara. Hasilnya tidak mengkhianati keteguhannya. Di bawah era kepemimpinan nasional yang mengusung semangat Nawacita, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memasukkan Talaud ke dalam lima kawasan prioritas Program Pengembangan Kawasan Kelautan dan Perikanan Terintegrasi (PK2PT).Langkah nyata mulai terlihat. Pada rentang 2015 hingga 2016, alih status pangkalan pendaratan ikan menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai di Desa Salibabu dirampungkan. Tahun 2017, kawasan itu berdenyut dengan hadirnya Tempat Pelelangan Ikan (TPI), fasilitas cool storage, pabrik ice flake skala besar, hingga 50 unit rumah bagi nelayan. Kerjasama strategis pun terjalin saat PT Perikanan Nusantara (Persero) menginjakkan kaki di Talaud untuk mengelola Integrated Cold Storage (ICS) serta melatih nelayan lokal.
Talaud tak lagi muram kala itu. Dari balik ombak yang dulu diabaikan, kini terpancar sinar dari ujung perbatasan. Kabar tentang kebangkitan laut Talaud terbang jauh menembus batas negara. Suatu hari, seorang investor asal Tiongkok, Zhang Zhi Xiang, menjejakkan kakinya di tanah Porodisa. Setelah melihat langsung kekayaan laut yang membentang di Salibabu dan sekitarnya, matanya berbinar. Zhang berencana menerjunkan kapal-kapal pengangkut berbendera Indonesia khusus untuk menyerap produksi tuna Talaud.
Pada saat yang sama, pejabat pemerintah pusat seperti Dr. Krisna Samudra mematangkan rencana zonasi dan master plan untuk pulau-pulau terluar seperti Miangas, Marampit, dan Kakorotan. Puncak perhatian nasional itu mewujud ketika Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, datang langsung menghadiri festival budaya bahari Mane’e. Kehadiran Menteri Susi menjadi pengakuan terbuka bahwa negeri tempat ikan-ikan berumah ini telah kembali ke pangkuan maritimnya.
Namun bagi Sri Wahyumi, angka-angka produksi dan kedatangan investor tidak akan berarti jika perut nelayan tetap lapar. Di Desa Dalum, Pulau Salibabu, jemarinya meresmikan pembangunan 50 unit rumah nelayan melalui program Sekaya Maritim senilai Rp7 miliar.
“Pembangunan perumahan nelayan ini bertujuan untuk mewujudkan kawasan pemukiman yang lebih baik guna melindungi keselamatan nelayan dan keamanan keluarganya,” ujar Sri Wahyumi di hadapan warga Dalum. Di tempat itu, para nelayan—para petualang angin dan pesahabat ombak—menatap pemimpin mereka dengan mata berbinar terharu waktu itu. Mereka tahu, perempuan di depan mereka sedang bertarung mempertaruhkan segalanya untuk masa depan kampung halaman mereka.
Roda kehidupan Sri Wahyumi mencerminkan filosofi Hegel yang dikutipnya: seseorang yang tidak berani mempertaruhkan hidupnya, tidak akan pernah mencapai hakikat kesadaran diri yang mandiri.
Kerja kerasnya diakui secara internasional hingga ia diundang ke Amerika Serikat dalam program International Visitor Leadership Program (IVLP) pada 2017 atas keberhasilannya mengelola ekonomi kemaritiman. Namun, dunia politik dalam negeri selalu menyisakan dinamika yang tajam. Lawatan berprestasi ke Negeri Paman Sam itu justru berbuah sanksi penonaktifan selama tiga bulan dari jabatannya sebagai Bupati, lalu berakhir dalam jebakan terali besi.
Namun, di tengah terjangan badai politik dan tajamnya kritik, Sri Wahyumi tetap berdiri kukuh. Seperti nelayan Talaud yang tak pernah takut pada gelombang, ia paham bahwa ketenangan laut selalu diuji oleh hempasan ombak yang paling keras. (*)

