Pdt. Jemy Tangkere, Menakhodai GMIBM di Tengah Tantangan Zaman

BOLMONG, Merdekasatu.online – Di tengah perjalanan panjang Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow (GMIBM), pergantian kepemimpinan bukan sekadar perubahan nama dalam struktur organisasi. Di baliknya terdapat tanggung jawab besar untuk menjaga kehidupan bergereja, merawat persatuan jemaat, sekaligus menghadirkan gereja di tengah persoalan sosial masyarakat.

Tanggung jawab itu kini berada di pundak Pdt. Jemy Jan Sahiri Tangkere, M.Th.

Pendeta yang sebelumnya dikenal sebagai Sekretaris Umum yang menjadi salah satu figur penting dalam jajaran pelayanan Sinode GMIBM tersebut kini dipercaya memimpin Badan Pekerja Sinode (BPS) GMIBM periode 2026–2031.

Kepercayaan itu lahir melalui Sidang Sinode GMIBM ke-60 yang berlangsung pada Juli 2026. Forum tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan organisasi gereja yang memiliki sejarah panjang di kawasan Bolaang Mongondow Raya.

Terpilihnya Jemy Tangkere menandai babak baru dalam perjalanan kepemimpinan GMIBM.

Sebelum menduduki posisi puncak di BPS GMIBM, Tangkere telah lama berada dalam lingkaran pelayanan organisasi gereja tersebut. Namanya tercatat dalam sejumlah kegiatan sinode dan pelayanan jemaat. Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian membawanya dipercaya untuk memimpin organisasi gereja tersebut selama lima tahun ke depan.

Dari ruang pelayanan menuju kepemimpinan sinode

Kepemimpinan dalam organisasi gereja tidak hanya berbicara mengenai administrasi. Ada tanggung jawab untuk menerjemahkan kebutuhan jemaat, membaca perubahan sosial, serta menjaga agar gereja tetap hadir dalam kehidupan masyarakat.

Perjalanan menuju kursi Ketua BPS GMIBM juga berlangsung melalui proses panjang.

Sebelum terpilih sebagai ketua, ia pernah mengemban tanggung jawab sebagai sekretaris dalam struktur pelayanan Sinode GMIBM. Posisi tersebut membuatnya bersentuhan langsung dengan berbagai agenda organisasi, pelayanan jemaat dan persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika ia kemudian menerima mandat sebagai Ketua BPS.

Sidang Sinode ke-60 menjadi titik penting dalam perjalanan tersebut.

Forum yang berlangsung di GMIBM Sion Pinogaluman pada Juli 2026 itu tidak hanya memilih kepemimpinan baru, tetapi juga menjadi ruang evaluasi terhadap perjalanan pelayanan gereja sekaligus menentukan arah pelayanan GMIBM untuk periode berikutnya.

Dari forum itulah nama Pdt. Jemy Jan Sahiri Tangkere, M.Th. muncul sebagai pemimpin baru BPS GMIBM periode 2026–2031.

Gereja dan persoalan masyarakat

Peran seorang Ketua BPS GMIBM tidak berhenti pada mimbar gereja.

Salah satu gambaran mengenai peran sosial tersebut terlihat ketika Tangkere hadir dalam upaya penyelesaian konflik masyarakat Poopo dan Upai pada September 2026.

Dalam pertemuan yang melibatkan pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat dan sejumlah unsur terkait itu, gereja mengambil bagian dalam proses membangun kembali komunikasi dan perdamaian di tengah masyarakat.

Kehadiran pimpinan GMIBM dalam persoalan tersebut memperlihatkan bahwa gereja memiliki ruang yang cukup penting dalam kehidupan sosial masyarakat Bolaang Mongondow.

Bagi gereja, persoalan masyarakat bukan sesuatu yang berdiri di luar kehidupan pelayanan.

Konflik, perbedaan, persoalan sosial dan kebutuhan masyarakat merupakan bagian dari realitas yang harus dihadapi bersama.

Di titik inilah kepemimpinan Tangkere memasuki ruang yang lebih luas.

Ia tidak hanya dituntut mengelola organisasi gereja, tetapi juga menjaga agar GMIBM tetap menjadi bagian dari proses membangun kehidupan masyarakat yang damai dan saling menghargai.

Lima tahun yang penuh tantangan

Periode 2026–2031 tentu bukan perjalanan yang ringan.

Perubahan sosial berlangsung cepat. Generasi muda menghadapi tantangan baru. Persoalan ekonomi, lingkungan, teknologi digital hingga dinamika kehidupan masyarakat ikut memengaruhi kehidupan jemaat.

Gereja pun dituntut untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai pelayanan.

Di tengah perubahan tersebut, kepemimpinan BPS GMIBM memiliki pekerjaan besar: menjaga persatuan internal gereja sekaligus memastikan pelayanan tetap menyentuh kebutuhan nyata jemaat.

Tantangan lainnya adalah bagaimana gereja mempertahankan peran sebagai ruang spiritual sekaligus menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, kepemimpinan Jemy Tangkere selama lima tahun ke depan akan menjadi bagian penting dalam menentukan wajah pelayanan GMIBM.

Menjaga persatuan

GMIBM memiliki sejarah panjang dan jemaat yang tersebar di berbagai wilayah Bolaang Mongondow Raya.

Keragaman latar belakang jemaat menjadi kekuatan, tetapi sekaligus membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga komunikasi dan persatuan.

Di sinilah pengalaman Tangkere sebagai bagian dari struktur pelayanan sinode sebelumnya menjadi penting.

Ia memahami bahwa organisasi gereja tidak hanya terdiri atas struktur di tingkat sinode. Di bawahnya terdapat jemaat, pelayan khusus, pendeta, warga gereja dan berbagai komunitas yang memiliki dinamika masing-masing.

Memimpin GMIBM berarti mempertemukan berbagai kepentingan tersebut dalam satu arah pelayanan.

Mandat lima tahun yang diterimanya melalui Sidang Sinode ke-60 menjadi amanah untuk menjalankan tugas tersebut.

Babak baru GMIBM

Terpilihnya Pdt. Jemy Jan Sahiri Tangkere, M.Th. sebagai Ketua BPS GMIBM periode 2026–2031 sekaligus membuka babak baru dalam perjalanan organisasi gereja tersebut.

Ia mewarisi perjalanan panjang yang telah dibangun para pendahulunya. Pada saat yang sama, ia menghadapi tuntutan zaman yang terus berubah.

Di antara dua hal itulah kepemimpinan baru GMIBM akan diuji: bagaimana menjaga nilai dan tradisi gereja, sembari menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Pada akhirnya, kepemimpinan di gereja bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi tertinggi organisasi.

Lebih dari itu, kepemimpinan merupakan tentang bagaimana sebuah mandat diterjemahkan menjadi pelayanan.

Dan bagi Pdt. Jemy Tangkere, periode 2026–2031 menjadi kesempatan untuk membuktikan bagaimana amanah tersebut dapat diterjemahkan dalam kehidupan gereja dan masyarakat.

Lima tahun ke depan akan menjadi bagian baru dari perjalanan panjang GMIBM—dengan seorang pemimpin baru yang kini berada di garis depan untuk menakhodainya.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *