Jejak Gajah Baru dari Kepanjen hingga Filipina

MALANG, Merdekasatu.online – Nama rokok Gajah Baru cukup dikenal di sejumlah daerah di Indonesia. Di balik merek tersebut terdapat perjalanan panjang perusahbuataan yang sebelumnya dikenal melalui produk rokok dengan nama Gudang Baru.

Perusahaan yang mencantumkan nama PT Gudang Baru Berkah itu berpusat di Jalan Probolinggo, Desa Penarukan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Berdasarkan informasi pada situs resmi perusahaan, sejarah usaha tersebut berawal dari kegiatan perdagangan tembakau yang dirintis sejak 1967 di Desa Penarukan. Usaha itu kemudian berkembang menjadi industri rokok dengan sejumlah merek yang dipasarkan ke berbagai wilayah.

Nama Gudang Baru kemudian menjadi perhatian setelah berhadapan dengan PT Gudang Garam Tbk dalam sengketa merek. Dalam perkembangan berikutnya, penggunaan nama Gudang Baru pada produk rokok berubah dan perusahaan kemudian memasarkan produknya dengan merek Gajah Baru.

Meski demikian, terdapat hal yang perlu dicermati. Informasi mengenai merek dan badan usaha tidak sepenuhnya sama. Situs perusahaan masih mencantumkan nama PT Gudang Baru Berkah, sementara sejumlah pemberitaan menyebut perusahaan tersebut telah berganti nama menjadi PT Gajah Baru.

Perbedaan informasi tersebut perlu diklarifikasi melalui data administrasi badan hukum pemerintah agar tidak terjadi kekeliruan antara perubahan merek dagang dengan perubahan nama badan usaha.

Produksi dalam skala besar

Perjalanan perusahaan tidak hanya berkaitan dengan perubahan merek. Dalam pemberitaan sebelumnya, perusahaan disebut memiliki sejumlah merek rokok dan kapasitas produksi dalam jumlah besar. Pada 2018, perusahaan diberitakan memiliki sekitar 20 merek dan menargetkan produksi hingga miliaran batang per tahun.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak sekadar menjalankan usaha rokok dalam skala lokal, tetapi telah membangun jaringan produksi dan distribusi yang cukup luas.

Dalam perkembangannya, produk Gajah Baru juga menembus pasar luar negeri. Ekspor Gajah Baru dan kontribusi terhadap devisa. Aktivitas ekspor membuat produk Gajah Baru masuk dalam perdagangan internasional dan ikut berkontribusi terhadap aktivitas yang menghasilkan devisa bagi Indonesia.

Penelusuran data perdagangan menunjukkan adanya sejumlah pengiriman Gajah Baru International Filter 12 dari Indonesia menuju Filipina sepanjang 2025. Salah satu catatan menunjukkan pengiriman sebanyak 8.448.000 batang dengan nilai sekitar US$221.760. Pengiriman lainnya pada April 2025 tercatat sebanyak 7.872.000 batang dengan nilai sekitar US$206.640.

Data yang sama juga mencatat pengiriman sebanyak 2.880.000 batang dengan nilai sekitar US$72.600. Berdasarkan sejumlah transaksi yang berhasil ditelusuri, sedikitnya terdapat transaksi ekspor Gajah Baru ke Filipina dengan nilai gabungan sekitar US$1,63 juta.

Dengan menggunakan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar:US$1.627.130 × Rp16.500 = Rp26,85 miliar.

Angka tersebut memberikan gambaran bahwa perdagangan produk Gajah Baru ke Filipina memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Namun, angka Rp26,85 miliar tidak boleh langsung disebut sebagai devisa bersih yang masuk ke kas negara.

Nilai tersebut merupakan nilai transaksi ekspor yang tercatat dalam basis data perdagangan. Penerimaan devisa, pajak, cukai, biaya perdagangan, pembayaran kepada pemasok dan komponen lainnya memiliki mekanisme tersendiri.

Karena itu, untuk sementara angka yang paling tepat digunakan adalah nilai transaksi ekspor yang teridentifikasi, bukan nilai penerimaan negara.

Tidak hanya Filipina

Jejak ekspor Gajah Baru ternyata tidak hanya mengarah ke Filipina. Data perdagangan juga mencatat pengiriman Gajah Baru International Filter 16 dari Indonesia menuju Singapura pada Juni 2025 sebanyak 612 karton dengan nilai sekitar US$142.596.

Pada periode yang sama, Gajah Baru International Filter 12 juga tercatat dikirim ke Malaysia sebanyak 3.264.000 batang dengan nilai sekitar US$82.280.

Catatan lain menunjukkan pengiriman Gajah Baru International Filter 12 ke Filipina sebanyak 3.648.000 batang dengan nilai sekitar US$91.960.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa pasar ekspor menjadi bagian dari kegiatan perdagangan perusahaan.

Jejak ekspor menuju Filipina

Salah satu jalur perdagangan yang menarik perhatian berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Pada 2023, sebanyak 900 karton rokok Gajah Baru diberitakan dikirim dari wilayah Petta, Kabupaten Kepulauan Sangihe, menuju General Santos City, Mindanao, Filipina.

Pengiriman tersebut menggunakan beberapa kapal motor dan melibatkan masyarakat setempat. Informasi yang diberitakan kala itu menyebut rokok tersebut sebelumnya dikirim dari Tanjung Perak, Surabaya, kemudian melalui Manado dan Tahuna sebelum dibawa menuju Petta.

Pihak Bea Cukai pada saat itu menyebut aktivitas ekspor tersebut berada dalam jalur hijau dan telah berlangsung secara legal sejak 2019. Jejak perdagangan tersebut memperlihatkan adanya jalur distribusi yang menghubungkan Pulau Jawa, Sulawesi Utara hingga Filipina.

Bukan hanya soal rokok

Kegiatan ekspor tersebut juga memiliki dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Pemberitaan sebelumnya menyebut aktivitas pengiriman Gajah Baru melalui Petta melibatkan masyarakat setempat. Artinya, persoalan ini tidak semata-mata berkaitan dengan produk rokok, tetapi juga menyangkut aktivitas ekonomi masyarakat pesisir dan jalur perdagangan lintas negara.

Pada sisi lain, aktivitas ekspor juga berhubungan dengan penerimaan negara melalui berbagai kewajiban yang melekat pada industri dan perdagangan hasil tembakau. Karena itu, transparansi mengenai mekanisme ekspor menjadi penting agar kegiatan ekonomi masyarakat tetap berjalan sesuai ketentuan. (TL)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *