Iptu Nelta Rengkung, Kasat Lantas yang Terus Mengedukasi Keselamatan di Jalan Raya

Oplus_131072

SANGIHE — Di tengah lalu lintas kendaraan yang terus bergerak di ruas-ruas jalan Kabupaten Kepulauan Sangihe, ada sosok perwira polisi yang memilih tidak sekadar berdiri di belakang meja. Ia turun menemui masyarakat, mendatangi sekolah, menyapa komunitas pengendara, hingga ikut dalam berbagai kegiatan sosial.

Dia adalah IPTU Nelta Rengkung, S.Or., Kasat Lantas Polres Kepulauan Sangihe.

Bagi Nelta, tugas polisi lalu lintas tidak semata-mata berbicara tentang tilang dan penindakan. Ada pekerjaan yang jauh lebih panjang, yakni membangun kesadaran masyarakat agar keselamatan menjadi bagian dari budaya berkendara.

Pandangan tersebut tampak dari sejumlah kegiatan yang dilakukannya selama bertugas di Sangihe. Edukasi kepada pelajar, sosialisasi kepada komunitas pengendara, hingga kegiatan sosial menjadi bagian dari pendekatan yang dijalankan Satuan Lalu Lintas Polres Kepulauan Sangihe.

Berawal dari Bidang Keselamatan dan Pendidikan Masyarakat

Sebelum dipercaya memimpin Satuan Lalu Lintas Polres Kepulauan Sangihe, Nelta memiliki pengalaman di bidang pembinaan keselamatan lalu lintas.

Ia pernah menjabat sebagai Kanit Kamsel Polres Minahasa Utara. Posisi tersebut berkaitan erat dengan upaya membangun kesadaran dan keselamatan masyarakat dalam berlalu lintas.

Pengalaman itu kemudian menjadi salah satu bekal ketika Nelta dipercaya mengemban tugas sebagai pimpinan kewilayahan.

Pada April 2023, Nelta Rengkung dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Tikala Polresta Manado.

Pergantian jabatan tersebut menjadi bagian dari penyegaran organisasi di jajaran Polresta Manado. Dalam tugas barunya, Nelta tidak hanya berhadapan dengan persoalan lalu lintas, tetapi juga berbagai persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polsek Tikala.

Dalam apel perdana setelah menduduki jabatan tersebut, ia menekankan pentingnya kekompakan personel serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Pesan tersebut memperlihatkan satu hal: kepemimpinan bagi Nelta bukan hanya mengenai jabatan, tetapi juga bagaimana membangun soliditas internal untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Menyeberang ke Kepulauan Sangihe

Dua tahun kemudian, perjalanan karier Nelta kembali bergerak.

Pada Agustus 2025, ia dipercaya menduduki jabatan Kasat Lantas Polres Kepulauan Sangihe, menggantikan IPTU Ismail Diko, S.Sos.

Kepulauan Sangihe memiliki karakter wilayah tersendiri. Sebagai daerah kepulauan di ujung utara Sulawesi, tantangan pelayanan masyarakat dan pembinaan keselamatan lalu lintas tentu memiliki dinamika berbeda dibanding wilayah perkotaan.

Di tempat inilah pengalaman Nelta di bidang Kamsel dan pengalaman memimpin wilayah menjadi relevan.

Ia membawa pendekatan yang tidak hanya mengedepankan penindakan, tetapi juga pencegahan dan edukasi.

Polisi yang Datang ke Sekolah

Salah satu pendekatan yang cukup menonjol adalah keterlibatan Satlantas dalam kegiatan edukasi kepada generasi muda.

Program Police Goes To School menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan aturan dan etika berlalu lintas sejak usia dini.

Nelta bahkan turun langsung memberikan edukasi kepada pelajar. Pesannya sederhana: keselamatan di jalan bukan hanya tanggung jawab polisi, tetapi tanggung jawab setiap pengguna jalan.

Pada Maret 2026, kegiatan edukasi lalu lintas dilakukan di SDN 1 Tahuna. Pelajar diberikan pemahaman mengenai disiplin dan keselamatan berlalu lintas.

Kegiatan serupa juga dilakukan kepada siswa SMK Negeri Tabukan Utara.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa penegakan hukum lalu lintas tidak selalu harus dimulai dari pelanggaran. Menurut pola kegiatan yang dijalankan, pencegahan justru ditempatkan sebagai salah satu fondasi utama.

Humanis di Tengah Penegakan Hukum

Dalam Operasi Keselamatan Samrat 2026, Nelta menegaskan pentingnya tindakan preventif dan penegakan hukum yang humanis.

Sejumlah pelanggaran menjadi perhatian, mulai dari pengendara yang tidak memiliki SIM, melawan arus, menggunakan telepon saat berkendara, berkendara dalam pengaruh alkohol, hingga tidak menggunakan helm standar dan sabuk pengaman.

Penindakan tetap menjadi bagian dari tugas kepolisian. Namun, di sisi lain, masyarakat juga perlu diberikan pemahaman mengapa aturan tersebut dibuat.

Di titik inilah pendekatan humanis menjadi penting.

Polisi tidak hanya hadir ketika pelanggaran terjadi, tetapi juga hadir sebelumnya untuk mengingatkan dan mengedukasi.

Ketika Polisi Berbagi Takjil

Kedekatan dengan masyarakat juga terlihat melalui kegiatan sosial.

Pada Ramadan 1447 Hijriah, personel Satlantas Polres Kepulauan Sangihe membagikan takjil kepada pengguna jalan di wilayah Tahuna.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi polisi untuk menyampaikan pesan keselamatan kepada masyarakat.

Bagi sebagian orang, pembagian takjil mungkin terlihat sebagai kegiatan sederhana. Namun bagi polisi lalu lintas, momen tersebut menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat.

Tidak selalu harus melalui razia atau penindakan.

Kadang-kadang, pesan tentang keselamatan justru lebih mudah diterima ketika disampaikan dalam suasana yang lebih humanis.

Menyentuh Komunitas Pengendara

Nelta juga memberikan perhatian kepada komunitas pengendara.

Dalam kegiatan bersama komunitas bikers Sangihe, pesan yang disampaikan berkaitan dengan penggunaan helm SNI, kepatuhan terhadap rambu-rambu lalu lintas, serta larangan berkendara di bawah pengaruh alkohol.

Komunitas pengendara dipandang sebagai salah satu kelompok strategis dalam membangun budaya tertib lalu lintas.

Jika komunitas menjadi pelopor keselamatan, pesan tersebut dapat berkembang lebih luas di tengah masyarakat.

Dari Jalan Raya hingga Kegiatan Sosial

Aktivitas Satlantas di bawah kepemimpinan Nelta juga menyentuh aspek sosial.

Pada September 2025, kegiatan Polantas Menyapa digelar di Kampung Batunderang. Selain memberikan edukasi lalu lintas, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.

Pendekatan seperti ini memperlihatkan wajah lain polisi lalu lintas.

Polisi tidak hanya hadir sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat.

Tantangan yang Terus Berjalan

Menjadi Kasat Lantas bukan pekerjaan yang berhenti ketika operasi selesai.

Setiap hari terdapat persoalan baru: disiplin pengendara, penggunaan helm, kelengkapan surat kendaraan, kecelakaan lalu lintas, hingga kesadaran masyarakat terhadap keselamatan.

Karena itu, pekerjaan seorang Kasat Lantas sesungguhnya merupakan pekerjaan membangun kebiasaan.

Membiasakan pengendara menggunakan helm.

Membiasakan pengemudi mematuhi rambu.

Membiasakan anak-anak memahami keselamatan sejak sekolah.

Dan yang paling penting, membangun kesadaran bahwa keselamatan bukan karena takut kepada polisi, melainkan karena memahami pentingnya menjaga diri sendiri dan orang lain.

Jejak Kepemimpinan yang Terus Berjalan

Hingga 2026, Nelta Rengkung masih dipercaya sebagai Kasat Lantas Polres Kepulauan Sangihe.

Jejak karier yang berhasil ditelusuri menunjukkan perjalanan dari bidang Kamsel di Polres Minahasa Utara, kemudian dipercaya memimpin Polsek Tikala, hingga akhirnya mendapat tanggung jawab sebagai Kasat Lantas di wilayah Kepulauan Sangihe.

Riwayat pendidikan kepolisian, tahun masuk Polri, serta sejumlah penugasan awal Nelta belum banyak tersedia dalam sumber terbuka yang dapat diverifikasi. Karena itu, bagian tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut agar tidak menimbulkan informasi yang keliru.

Namun dari kiprahnya yang terlihat di lapangan, satu benang merah cukup jelas, Nelta Rengkung menempatkan edukasi dan pendekatan kepada masyarakat sebagai bagian penting dari tugas kepolisian lalu lintas.

Di jalan raya, tugas itu mungkin terlihat sederhana.

Mengatur arus kendaraan.

Menegur pelanggar.

Memastikan pengendara menggunakan helm.

Tetapi di balik semua itu ada pekerjaan yang jauh lebih panjang: mengubah perilaku.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan seorang polisi lalu lintas bukan hanya diukur dari berapa banyak pelanggaran yang ditindak, tetapi juga dari berapa banyak masyarakat yang akhirnya memilih tertib karena sadar bahwa keselamatan adalah kebutuhan bersama.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *