“Mengawal Laut Utara: Strategi dan Sentuhan Humanis Kombes Pol Bayuaji”

Oplus_131072

Merdekasatu.online – Di antara deru ombak yang memecah pesisir Sulawesi Utara, nama Bayuaji Yudha Prajas perlahan menjadi bagian dari narasi tentang pengabdian di wilayah perairan. Sejak dipercaya menjabat sebagai Direktur Polisi Perairan dan Udara di Polda Sulawesi Utara pada akhir 2025, perwira berpangkat Komisaris Besar Polisi itu memikul tanggung jawab yang tak ringan yakni menjaga laut tetap aman, sekaligus mendekatkan institusi kepolisian dengan masyarakat pesisir.

Di wilayah yang didominasi laut seperti Sulawesi Utara, tugas Direktorat Polairud bukan sekadar patroli. Dari pencegahan illegal fishing, pengawasan distribusi bahan bakar di laut, hingga operasi pencarian dan pertolongan saat bencana, semuanya berpulang pada koordinasi yang rapi dan kepemimpinan yang sigap. Di situlah Bayuaji menempatkan dirinya. Bukan hanya sebagai komandan, tetapi juga sebagai penghubung antara negara dan masyarakat yang hidup dari laut.

Suatu pagi di kawasan pesisir Bitung, misalnya, personel Polairud terlihat membagikan bantuan kepada nelayan. Kegiatan itu merupakan bagian dari program “Jumat Berkah” yang digagas untuk memperkuat kedekatan dengan warga.

Bagi Bayuaji, pendekatan humanis bukan sekadar pelengkap tugas, melainkan strategi utama. “Keamanan tidak bisa berdiri sendiri tanpa kepercayaan masyarakat,” menjadi semangat yang kerap digaungkan dalam berbagai kesempatan.

Pendekatan itu pula yang terlihat ketika isu sensitif mencuat, seperti dugaan peredaran solar ilegal di wilayah perairan. Alih-alih bersikap reaktif, Bayuaji memilih jalur klarifikasi terbuka. Ia menekankan pentingnya fakta hukum dan asas praduga tak bersalah, sekaligus memastikan setiap informasi ditangani secara profesional.

Sikap ini mencerminkan keseimbangan antara ketegasan penegakan hukum dan kehati-hatian dalam menjaga kepercayaan publik.

Sebelum menakhodai Direktorat Polairud, Bayuaji pernah menjabat sebagai Irwasda di Polda Sulawesi Utara. Posisi yang menuntut ketelitian dalam pengawasan internal. Pengalaman tersebut tampak membentuk karakter kepemimpinannya menjadi sistematis, terukur, namun tetap terbuka terhadap dinamika di lapangan.

Dalam situasi darurat, seperti banjir yang melanda wilayah kepulauan di Sulawesi Utara, jajaran Polairud di bawah komandonya turut bergerak cepat. Personel tidak hanya melakukan evakuasi, tetapi juga membantu membersihkan rumah warga terdampak. Di momen-momen seperti itu, batas antara aparat dan masyarakat menjadi tipis. Yang tersisa adalah kerja bersama menghadapi keadaan.

Di balik seragam dan pangkat, Bayuaji menghadapi tantangan klasik penegakan hukum di wilayah perairan: luasnya area pengawasan, keterbatasan sarana, hingga praktik-praktik ilegal yang kerap berpindah-pindah lokasi. Namun ia memilih menjawabnya dengan kombinasi patroli intensif, pendekatan komunitas, serta penguatan koordinasi lintas instansi.

Bagi sebagian orang, laut adalah ruang tanpa batas. Namun bagi Bayuaji Yudha Prajas, laut adalah wilayah yang harus dijaga. Bukan hanya dari pelanggaran hukum, tetapi juga sebagai ruang hidup masyarakat yang bergantung padanya. Di situlah perannya menemukan makna, memastikan keamanan berjalan seiring dengan kepercayaan, dan hukum hadir tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan. (TL)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *