Di Balik Peluit dan Lampu Biru: Wajah Humanis Dirlantas Polda Sulut

Merdekasatu.online — Ketika peluit ditiup dan lampu biru kendaraan patroli menyala, publik kerap melihat Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) semata sebagai simbol penertiban. Namun di Sulawesi Utara, wajah lalu lintas perlahan berubah. Di bawah kepemimpinan Kombes Pol Indra Kurniawan Mangunsong, Ditlantas Polda Sulut berusaha keluar dari stigma lama. Bukan hanya menilang, tetapi juga melayani dan menyentuh sisi kemanusiaan.

Perubahan itu tidak hadir seketika. Ia tumbuh dari rutinitas jalanan, dari patroli subuh, kemacetan akibat antrean BBM, hingga korban kecelakaan yang hidupnya berubah selamanya.

Jalanan sebagai Ruang Pengabdian

Setiap pagi buta, ketika sebagian besar warga masih terlelap, personel Patroli Jalan Raya Ditlantas Polda Sulut sudah berada di jalan. Bukan sekadar mengurai lalu lintas, patroli subuh kini dibarengi program “berbagi kasih” membagikan paket sembako kepada petugas kebersihan, tukang ojek, hingga warga kurang mampu yang ditemui di jalan.

Bagi Kombes Indra, jalan raya bukan hanya ruang penegakan hukum, melainkan ruang pengabdian sosial. “Polisi lalu lintas harus hadir sebelum masyarakat meminta,” menjadi prinsip yang tercermin dari kebijakan internal Ditlantas.

Ketika Kecelakaan Tak Berakhir di Laporan Polisi

Salah satu program yang paling menyentuh publik adalah bantuan kaki palsu bagi korban kecelakaan lalu lintas. Pada peringatan Hari Lalu Lintas Bhayangkara, Ditlantas Polda Sulut bekerja sama dengan pihak swasta dan lembaga sosial untuk membantu warga yang kehilangan anggota tubuh akibat kecelakaan.

Program ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi pengingat bahwa di balik setiap data kecelakaan, ada kehidupan yang berubah, dan negara tidak boleh absen setelah laporan polisi ditutup.

Edukasi Sebelum Sanksi

Dalam pelaksanaan Operasi Patuh Samrat, Ditlantas Polda Sulut memilih jalur yang tidak populer namun berdampak jangka panjang yaitu pendekatan edukatif dan humanis. Penindakan tetap dilakukan, tetapi dibarengi sosialisasi keselamatan berkendara, dialog dengan pengendara, hingga imbauan langsung di lapangan.

Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan sebagai objek penertiban, melainkan mitra keselamatan. Pelanggaran lalu lintas dilihat sebagai persoalan budaya, bukan semata-mata niat melanggar hukum.

Mengurai Kemacetan, Mengelola Kepercayaan

Manado dan kota-kota penyangga Sulawesi Utara kerap dihadapkan pada kemacetan musiman. Mulai dari antrean SPBU hingga agenda wisata dan keagamaan. Di momen-momen seperti Tournament of Flowers Tomohon, Ditlantas Polda Sulut menjadi garda depan rekayasa lalu lintas.

Kerja ini jarang disorot, namun krusial. Salah perhitungan sedikit saja, kemacetan bisa berubah menjadi kemarahan publik. Karena itu, Ditlantas mulai mengandalkan pemetaan lapangan, koordinasi lintas instansi, dan respons cepat berbasis situasi.

Pelayanan yang Lebih Dekat

Transformasi juga menyentuh layanan publik. SIM keliling, pemanfaatan sistem digital, dan upaya memangkas birokrasi menjadi bagian dari wajah baru Ditlantas. Layanan tak lagi terpusat di kantor, tetapi mendatangi warga. Langkah ini sederhana, namun penting untuk mendekatkan negara kepada masyarakat, sekaligus membangun kembali kepercayaan yang selama ini terkikis oleh keluhan pelayanan.

Lebih dari Sekadar Lalu Lintas

Apa yang dilakukan Ditlantas Polda Sulut hari ini menunjukkan bahwa fungsi lalu lintas tidak berdiri sendiri. Ia bersinggungan dengan keselamatan, kemanusiaan, ekonomi, hingga martabat publik. Di tangan Kombes Pol Indra Kurniawan Mangunsong, Ditlantas berupaya menegaskan satu hal yakni tugas polisi lalu lintas tidak berhenti pada pelanggaran dan kecelakaan, tetapi berlanjut pada tanggung jawab sosial.

Di jalan-jalan Sulawesi Utara, peluit masih berbunyi dan lampu biru tetap menyala. Namun di balik itu, ada upaya senyap untuk menjadikan lalu lintas bukan sekadar tertib, melainkan lebih manusiawi. (Tomy)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *