Manado, Merdekasatu.online – Di lorong-lorong rumah sakit Bhayangkara Tingkat III Manado, namanya kerap dipanggil bukan hanya untuk urusan resep atau diagnosis. dr. Amelia Sakul, MM telah menjadi sinonim dari ketenangan, kedisiplinan, dan kepedulian medis yang tak terpisahkan dari kehidupan para tenaga kesehatan dan masyarakat luas di Sulawesi Utara.
Bukan sekadar dokter pada umumnya, Amelia berada di garis depan ketika kesehatan menjadi kata yang paling dicari-galinya. Sebagai pimpinan Tim Dokkes Polda Sulawesi Utara, ia terlihat memimpin pemeriksaan kesehatan berkala bagi anggota Polri dan ASN di jajaran Polda Sulut.
Minggu itu, di bawah sinar matahari pagi, langkahnya tenang namun pasti, menyapa satu per satu personel yang menjalani pemeriksaan fisik, laboratorium, hingga rontgen. Ia berbicara kepada wartawan bukan dengan jargon, tetapi dengan ketegasan seorang dokter yang tahu apa yang menjadi inti tugasnya, memastikan kesehatan sesama insan yang telah memilih jalan melindungi publik.
Dalam kesehariannya, tidak hanya anggota polisi yang dapat merasakan nasihat medisnya. Sebagai seorang konsultan Hyperbaric, dokter yang memiliki kepribadian ramah ini banyak menangani pasien-pasien dekompresi akibat penyelaman sehingga ia kerap bersentuhan medis dengan kebanyakan pasien warga negara asing dari berbagai negara yang memiliki hobi menyelam.
Dekompresi sendiri adalah suatu kondisi berbahaya saat gas (terutama nitrogen) yang larut di jaringan tubuh saat tekanan tinggi (di bawah air) membentuk gelembung saat tekanan turun terlalu cepat (naik ke permukaan).
Dari seorang dokter Amelia, para pasien banyak mendapat penanganan tepat dan informasi terkait apa itu penyakit dekompresi pada penyelam, penyebab, gejala, tindakan pencegahan, dan prosedur medis.
Lebih jauh, rekam jejaknya kini tidak hanya tertulis sebagai seorang dokter. Dr. Amelia juga sosok administratif yang ikut memikul tanggung jawab besar dalam struktur rumah sakit Bhayangkara Manado, memastikan pelayanan medis yang adil, cepat, dan tepat bagi siapa pun yang datang meminta bantuan.
Di lingkungan profesional, namanya pernah tercatat sebagai Wakil Kepala Rumah Sakit dan bagian dari organisasi medis yang lebih luas di Sulawesi Utara, yang tak lain bertujuan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di wilayah ini. Selain itu, Dokter yang murah senyum ini pernah penjabat sebagai Kaur Kesmapta Subbid Kespol Bid Dokkes Polda Sulut.
Namun bagi rekan-rekannya, pelukan tak resmi dan percakapan ringan di sela-sela jam kerja adalah momen kecil yang paling menggambarkan siapa dia: seorang dokter yang peduli dengan kesejahteraan rekan dan pasiennya, lebih dari sekadar gelar di belakang namanya. Dan di balik hal-hal besar yang pernah ia lakukan, inilah wajah kedokteran yang tak pernah berhenti belajar, memberi, dan berempati, hidup di tengah deru kehidupan rumah sakit, namun tak pernah kehilangan sentuhan kemanusiaannya. (Tom)

