Manado, Merdekasatu.online – Di sebuah ruangan yang tak begitu mencolok di Mapolda Sulawesi Utara, hiruk-pikuk proses seleksi calon polisi tampak seperti denyut nadi yang tak pernah berhenti.
Di balik semua itu, ada satu sosok yang sejak beberapa tahun terakhir menjadi penjaga gerbang integritas, Kombes Pol Slamet Waloya, Kepala Biro SDM Polda Sulut.
Waloya bukan tipe pejabat yang gemar tampil di panggung besar. Ia lebih sering terlihat di tengah proses seleksi, memantau layar komputer, berbincang dengan pengawas, atau sekadar memastikan alur tes berjalan tanpa celah.
Baginya, pembinaan sumber daya manusia bukan sekadar pekerjaan administratif. Ini menyangkut masa depan institusi yang ia bela sejak awal menapaki dunia kepolisian.
“BETAH” Bukan Hanya Slogan
Dalam beberapa kesempatan, Waloya menekankan bahwa rekrutmen anggota Polri harus berjalan di atas fondasi bersih, transparan, akuntabel, dan humanis prinsip yang ia sebut sebagai “BETAH.”
Ia tahu betul bahwa proses seleksi adalah titik paling rawan dari reputasi sebuah lembaga. Di titik ini, kepercayaan publik bisa dibangun, atau justru runtuh.
Karena itu pula, ia mendorong penggunaan sistem seleksi modern Computer Assisted Test (CAT), pemeriksaan satu pintu, hingga keterlibatan pengawas eksternal.
Setiap keputusan harus bisa dipertanggungjawabkan, setiap angka harus mampu menjelaskan dirinya sendiri. “Kalau ada yang menjanjikan kelulusan, laporkan,” tegasnya dalam berbagai kesempatan.
Kalimat itu bukan ancaman melainkan penegasan bahwa kedisiplinan moral harus dimulai dari pintu masuk Polri.
Pendekatan Humanis di Balik Ketegasan
Meski dikenal tegas dalam urusan integritas, para peserta tes sering bercerita bahwa Kombes Waloya punya sisi humanis yang kuat. Ia kerap menyapa para peserta di ruang tunggu, menenangkan mereka yang gelisah, atau memberi semangat kepada mereka yang tampak gugup sebelum ujian dimulai.
“Anggap saja kalian sedang berjuang untuk masa depan,” katanya suatu sore kepada para peserta yang sedang menunggu giliran CAT. “Asal kalian punya kemampuan, tidak ada alasan kalian tidak lulus.”
Di tengah ketatnya seleksi, kata-kata seperti itu menjadi suntikan moral bagi ratusan anak muda yang datang dengan harapan besar.
Tak Hanya Mengurus Polisi, Tapi Juga Pangan
Publik mungkin mengenal Waloya sebagai pejabat SDM, namun sedikit yang tahu bahwa ia juga terlibat dalam program non-kepolisian yakni ketahanan pangan. Di beberapa kabupaten, ia mendampingi petani binaan Polda Sulut, memantau penanaman jagung, hingga memastikan lahan-lahan produktif bisa dikelola maksimal.
Baginya, tugas polisi bukan melulu soal kriminal dan penegakan hukum. Polisi juga manusia sosial, dan institusinya punya kewajiban ikut memperkuat sendi kehidupan masyarakat.
“Pangan adalah keamanan,” ujarnya dalam sebuah bincang di radio lokal. “Kalau masyarakat kuat secara ekonomi, stabilitas sosial otomatis terjaga,” lanjutnya.
Jejak yang Masih Terus Ditapakkan
Mungkin publik belum tahu banyak tentang latar kehidupan pribadi dan perjalanan panjang karier Kombes Slamet Waloya. Namun dari apa yang tampak di permukaan, satu hal jelas, ia sedang menjalankan peran penting dalam memastikan kualitas generasi baru Polri.
Di tengah derasnya kritik terhadap institusi kepolisian, sosok seperti Slamet Waloya adalah pengingat bahwa perubahan tidak selalu datang lewat gebrakan besar. Kadang, perubahan lahir dari meja seleksi, dari keputusan untuk tidak menutup mata, dari keberanian menjaga integritas ketika tak ada kamera menyorot.
Dan selama masih ada orang yang mengawal proses itu dengan sepenuh hati, harapan bahwa Polri bisa menjadi lebih dekat, lebih transparan, dan lebih dipercaya, tetap ada. (Tomy)

