Perilaku sebagian konten kreator di media sosial yang kian kebablasan menabrak batas etika dan kesopanan bukan lagi sekadar fenomena digital — ini telah menjadi masalah sosial yang memengaruhi kualitas ruang publik kita. Facebook dan platform lainnya kini dipenuhi konten sensasional yang lebih mengutamakan viral daripada nilai, lebih mengejar perhatian daripada tanggung jawab. Dan ketika etika dikorbankan demi angka tayangan, konsekuensinya bukan hanya ditanggung oleh kreator, tetapi oleh seluruh masyarakat.
Tekanan algoritma dan kompetisi sengit di dunia digital telah mendorong sebagian kreator untuk memilih jalan pintas. Konten provokatif, ujaran merendahkan, rekaman pribadi tanpa izin, hingga informasi yang belum terverifikasi menjadi strategi cepat demi melesatkan interaksi. Namun, strategi ini menciptakan ilusi sukses jangka pendek sambil menggali lubang reputasi jangka panjang. Lebih berbahaya lagi, publik ikut terseret dalam pusaran informasi yang menyesatkan dan memecah belah.
Masalah utama yang harus diakui adalah minimnya literasi digital — bukan hanya di kalangan kreator, tetapi juga penonton. Ketika masyarakat memberikan atensi berlebih pada konten yang melanggar etika, algoritma pun merespons: konten tersebut diangkat lebih tinggi, disebarkan lebih luas, dan akhirnya dinormalisasi. Kita tak bisa hanya menyalahkan kreator jika konsumsi publik turut menyuburkan siklus itu.
Namun begitu, para kreator tetap memegang tanggung jawab moral yang tidak bisa dinegosiasikan. Menjadi pembuat konten bukan sekadar profesi baru; ia adalah peran publik. Dalam setiap unggahan, terdapat potensi memengaruhi opini, emosi, bahkan keputusan jutaan orang. Di sinilah integritas diuji. Kreativitas tidak seharusnya mengorbankan martabat orang lain. Kebebasan berekspresi tidak layak digunakan untuk menyebarkan kebencian atau kebohongan.
Platform media sosial dan regulator juga tidak boleh lepas tangan. Kebijakan yang membiarkan konten sensasional mendominasi demi kepentingan komersial hanya akan memperburuk kualitas wacana publik. Transparansi algoritma, penegakan aturan yang konsisten, dan literasi digital yang diperluas adalah bagian dari solusi yang mesti dijalankan secara simultan.
Di tengah derasnya arus konten yang melampaui batas, ruang digital membutuhkan benteng: benteng kesadaran, benteng etika, dan benteng tanggung jawab kolektif. Kreator harus berani menahan diri. Platform harus berani memilih kualitas dibanding keterlibatan sesaat. Publik harus berani berhenti memberi panggung pada konten yang merendahkan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita renungkan bukan lagi sekadar “Mengapa kreator bisa kebablasan?”, tetapi “Sampai kapan kita membiarkan ruang digital dibentuk oleh konten paling bising, bukan paling bernilai?”
Ruang publik yang sehat dimulai dari konten yang beradab — dan itu adalah tanggung jawab kita semua.
Penulis:
Tomy Lasut, Pemimpin Redaksi portal media Merdeka1.online

