Merdekasatu.online – Di sebuah pagi yang gerimis di Manado, halaman Mapolda Sulawesi Utara tampak sibuk. Deretan personel berdiri rapi mengikuti gelar pasukan Operasi Patuh Samrat. Di depan barisan itu, seorang perwira berseragam cokelat berdiri tegap, memberikan arahan dengan suara tenang namun tegas.
Dialah Kombes Pol Yakub Dedy Karyawan, Inspektur Pengawasan Daerah (Irwasda) Polda Sulut. Sosok yang mungkin tidak selalu berada di garda pemberitaan, tetapi memiliki peran penting menjaga jantung akuntabilitas kepolisian.
Sebagai Irwasda, Yakub bertugas memastikan setiap proses, dari pengawasan internal hingga audit operasional, berjalan sesuai standar. Peran itu dijalankannya dalam berbagai momentum penting sepanjang 2025.
Ia hadir ketika Polda Sulut menjalani audit tematik dari Tim Itwasum Polri. Sebuah proses yang ia sebut sebagai “komitmen untuk memperkuat akuntabilitas penyidikan dan kesiapsiagaan operasional.”
Di ruang kerjanya, di antara tumpukan berkas audit dan laporan kegiatan, Yakub memimpin jalannya pemeriksaan satu per satu, memastikan setiap data sesuai, setiap prosedur dipatuhi.
Namun pekerjaannya bukan hanya persoalan angka dan laporan. Dalam banyak kesempatan, Yakub turun langsung ke lapangan. Pada Juli 2025, misalnya, ia memimpin apel gelar pasukan operasi lalu lintas. Kegiatan yang melibatkan ratusan personel dari berbagai fungsi.
Di depan mereka, Yakub menegaskan bahwa keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. “Penegakan hukum lalu lintas bukan hanya soal tilang,” ujarnya kala itu, “tetapi bagaimana kita hadir melindungi.”
Sosoknya juga lekat dengan berbagai upaya pembenahan internal. Ketika Polda Sulut membuka seleksi calon Bintara Brimob, Yakub yang memimpin penandatanganan pakta integritas dan pengambilan sumpah. Baginya, proses rekrutmen adalah pintu pertama terbentuknya kualitas Polri.
“Harus bersih, transparan, akuntabel, dan humanis,” kata dia. Sebuah prinsip yang berulang kali ia tekankan di hadapan peserta seleksi dan panitia penerimaan.
Karier Yakub tidak sepenuhnya terekspos ke publik. Informasi tentang masa awalnya di kepolisian memang jarang muncul, tetapi catatan menunjukkan ia pernah mengikuti pendidikan strategis di Lemhannas RI dan bertahun-tahun berkecimpung dalam bidang pengawasan internal.
Dari ruang audit di Mabes Polri hingga meja evaluasi di Polda, ia membangun reputasi sebagai perwira yang rapi, teliti, dan tidak banyak bicara. Sosok yang bekerja lebih banyak daripada terlihat.
Keberadaannya makin menonjol dalam berbagai kegiatan eksternal. Ia mewakili Polda dalam acara sinergi penegakan hukum sektor jasa keuangan bersama OJK, dan menerima kunjungan tim dari Kompolnas dalam rangka evaluasi kebijakan operasional. Dalam acara peringatan Hari Pahlawan di Polda Sulut, ia berdiri sebagai inspektur upacara. Disana, ia mengingatkan pentingnya integritas dan pengabdian di tengah tugas-tugas kepolisian modern.
Bagi sebagian anggota Polri di Sulawesi Utara, nama Yakub Dedy Karyawan mungkin identik dengan ketelitian. “Kalau Irwasda turun mengecek, semua harus siap,” kata seorang personel yang pernah ikut pendampingan audit. Bukan karena takut, melainkan karena tahu bahwa Yakub ingin memastikan tidak ada kesalahan kecil yang mencederai kepercayaan publik.
Di tengah dinamika kepolisian yang terus bergerak, keberadaan Irwasda kerap tak terlihat seperti para direktur yang memimpin operasi besar. Namun bagi institusi sebesar Polda Sulut, peran pengawasan justru menjadi salah satu pilar paling krusial.
Dari audit, gelar pasukan, hingga penegasan integritas rekrutmen, Kombes Yakub Dedy Karyawan menaruh perhatian pada detail-detail yang sering diabaikan, detail yang justru menentukan kepercayaan masyarakat.
Dan dalam keheningan kerjanya, ia menjadi pengawal senyap yang memastikan roda organisasi tetap berada di jalur yang benar. Sebuah peran yang jarang disorot, tetapi vital bagi wajah kepolisian yang ingin terus dipercaya. (Tomy)

