Merdekasatu.online – Di balik deretan kasus korupsi yang mencuat di Sulawesi Utara, tak banyak yang mengenal sosok perwira yang bekerja di ruang-ruang kecil, mengumpulkan potongan data seperti merangkai puzzle. Namanya Kompol Muhammad Fadli, seorang penyidik Tipikor Polda Sulut yang jarang tampil di depan kamera, namun hampir selalu muncul di balik lembar pemanggilan, gelar perkara, atau laporan praperadilan yang menyita perhatian publik.
Sosoknya bukan pejabat yang gemar melakukan konferensi pers. Ia lebih sering terdengar melalui kalimat singkat:“Masih pendalaman.”Jawaban itu ia lontarkan ketika ditanya media soal dugaan gratifikasi yang menyeret pejabat di Minahasa Selatan. Tenang, pendek, tetapi cukup memberi gambaran bagaimana ia bekerja. Perlahan, rapi, dan berhati-hati.
Di Balik Kasus Besar, Ada Tim Kecil yang Tak Pernah Tidur
Nama Muhammad Fadli yang juga Kasubdit Tipikor Ditreskrimsus Polda Sulut ini mulai sering mencuat ketika Polda Sulut menangani perkara pengadaan mobil laboratorium PCR Dinas Kesehatan Kota Manado tahun 2020, kasus yang kemudian bergulir hingga meja praperadilan.
Dalam persidangan, hakim menyatakan penetapan tersangka sah, sekaligus menegaskan bahwa langkah penyidik termasuk Fadli, telah sesuai hukum.
Ini bukan sorotan pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, Subdit Tipikor Polda Sulut memikul beban sejumlah perkara yang menyangkut pejabat publik, anggaran daerah, hingga laporan masyarakat yang penuh tensi politik.
Di banyak kesempatan, nama Kompol Fadli berada di tengah-tengah proses itu, entah sebagai penyidik yang memanggil, memeriksa, atau menandatangani administrasi penyidikan.
Salah satu momen yang menyedot perhatian publik adalah ketika ia mengirimkan surat pemanggilan kepada seorang tokoh gereja besar terkait dugaan penyimpangan dana hibah. Tak lama, berita beredar, opini publik membesar, dan kembali, Muhammad Fadli harus berhadapan dengan ekspektasi masyarakat yang ingin kasus berjalan cepat meski proses hukum tidak pernah sesederhana itu.
Keteguhannya menangani perkara besar diuji saat kasus dugaan korupsi Dana Hibah GMIM tersebut yang mengguncang hampir seantero Bumi Nyiur Melambai. Tekanan publik menghantam. Pro kontra mencuat akibat melibatkan tokoh agama paling besar di Sulut. Ia tak pernah goyah. Hukum adalah panglima, dan dia berdiri sebagai “panglima” untuk mengusut tuntas kasus ini.
Tak berhenti sampai disitu, dugaan korupsi di PD Pasar Manado juga dilibasnya. Tak ada ruang untuk korupsi. Beberapa nama terkait termasuk Dirut PD Pasar Lucky Senduk dipanggil dan penanganan kasus ini masih terus berjalan.
Penyidik di Jalan Sunyi
Tidak banyak informasi personal yang terbuka tentangnya. Tidak ada data tanggal lahir, tidak ada catatan panjang riwayat jabatan, tidak ada rekam publik yang mendetail. Ia seperti banyak penyidik lain di Indonesia, bekerja di garis tengah. Penting, tetapi tidak dirancang untuk tampil di panggung luar.
Namun dari serpihan informasi yang muncul, ada satu benang merah. Setiap kali kasus korupsi di Sulut menjadi sorotan, nama Muhammad Fadli hampir selalu muncul di ruang-ruang yang menentukan.
Di lingkungan Tipikor, pekerjaan tak hanya soal mencari kerugian negara atau menghitung angka. Ada tekanan politik, interaksi dengan elite daerah, aduan publik, hingga dinamika opini media. Tidak jarang penyidik harus berdiri di antara kepentingan yang saling tarik-menarik.
Dalam atmosfer itulah peran Fadli justru menjadi penyangga. Ia bukan figur publik, bukan komentator, dan bukan bagian dari narasi politik. Ia hanya bagian dari sistem yang, pelan-pelan, mencoba menegakkan hukum meski kondisi tak selalu ideal.
Mengurai Benang yang Kusut
Penyidikan korupsi bukan kerja yang romantis. Itu pekerjaan yang penuh dokumen, pertemuan formal, klarifikasi pihak-pihak yang tidak selalu kooperatif, hingga pemeriksaan yang memakan waktu berbulan-bulan. Di Polda Sulut, kasus korupsi bisa berpindah-pindah antara laporan masyarakat, audit investigasi, hingga gelar perkara di tingkat penyidik.
Dalam pernyataannya yang singkat kepada media, Fadli pernah mengatakan bahwa penyelidikan “masih pendalaman.” Dari luar, kalimat itu bisa terdengar normatif. Namun bagi seorang penyidik, kalimat tersebut berarti ketelitian ekstra, pengecekan ulang dokumen, dan kehati-hatian agar tidak salah menyasar orang.
Kasus yang tengah berjalan pun bukan tanpa risiko. Setiap penyidik Tipikor tahu bahwa memeriksa pejabat, tokoh masyarakat, atau aparat pemerintah berarti menarik garis tipis antara kepastian hukum dan tekanan eksternal yang tak terlihat.
Sosok yang Tak Mencari Panggung
Dalam era media sosial dan konferensi pers, menarik melihat seorang pejabat penegak hukum yang tidak mencari panggung. Fadli jarang memberikan pernyataan panjang. Ia lebih memilih menunjukkan hasil melalui dokumen penyidikan dan putusan yang menguatkan langkahnya.
Keheningan seperti itu justru mencerminkan profesinya. Sunyi, tetapi punya gema. Tidak semua orang mengenalnya, tetapi banyak yang mengikuti hasil kerjanya.
Di tengah kompleksitas penegakan hukum di Sulawesi Utara, nama Kompol Muhammad Fadli mungkin tidak selalu menjadi headline. Namun ia selalu muncul pada titik-titik yang menentukan, pada lembaran yang menuntut kepastian, dan pada putusan yang memberi arah.
Ia adalah salah satu wajah sunyi di balik perjuangan memberantas korupsi. Wajah yang mungkin tidak dikenal publik secara dekat, tetapi jejak kerjanya berbicara lebih keras dari profil apa pun yang tidak pernah ia tunjukkan. (Tomy)

